:)

Perkenalkan Nama Saya Titin Kusayang,Saya Kuliah di Universitas Negeri Padang. Pernah Bersekolah Di SD 299/III Kumun Mudik, MTsN Model Sungai Penuh, Dan SMAN 4 Sungai Penuh. Semoga Postingan Saya Bermanfaat Untuk Anda.

Senin, 03 Desember 2012

perkembangan kreativitas

 Pengertian kreativitas
Kreatifitas merupakan suatu bidang kajian yang kompleks, yang menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Perbedaan definisi kreativitas yang dikemukakan oleh banyak ahli merupakan definisi yang saling melengkapi. Sudut pandang para ahli terhadap kreativitas menjadi dasar perbedaan dari definisi kreativitas. Definisi kreativitas tergantung pada segi penekanannya, kreativitas dapat didefinisikan kedalam empat jenis dimensi sebagai Four P’s Creativity, yaitu dimensi Person,Proses, Press dan Product sebagai berikut :

a.       Definisi kreativitas dalam dimensi Person
Definisi pada dimensi person adalah upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada individu atau person dari individu yang dapat disebut kreatif.
“Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
“Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way” (Hulbeck, 1945 dikutip Utami Munandar, 1999)
Guilford menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan atau kecakapan yang ada dalam diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan bakat. Sedangkan Hulbeck menerangkan bahwa tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi kreativitas dari dua pakar diatas lebih berfokus pada segi pribadi.
b.       Kreativitas dalam dimensi Process
Definisi pada dimensi proses upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada proses berpikir sehingga memunculkan ide-ide unik atau kreatif.
“Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001).
Utami Munandar menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibititas), dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi). Selain pendapat yang diuraikan diatas ada pendapat lain yang menyebutkan proses terbentuknya kreativitas sebagai berikut :
Wallas (1976) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengemukakan empat tahap dalam proses kreatif yaitu :
Tahap Persiapan; adalah tahap pengumpulan informasi atau data sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini terjadi percobaan-percobaan atas dasar berbagai pemikiran kemungkinan pemecahan masalah yang dialami.
Inkubasi; adalah tahap dieraminya proses pemecahan masalah dalam alam prasadar. Tahap ini berlangsung dalan waktu yang tidak menentu, bisa lama (berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun), dan bisa juga hanya sebentar (hanya beberapa jam, menit bahkan detik). Dalam tahap ini ada kemungkinan terjadi proses pelupaan terhadap konteksnya, dan akan teringat kembali pada akhir tahap pengeraman dan munculnya tahap berikutnya.
Tahap Iluminasi; adalah tahap munculnya inspirasi atau gagasan-gagasan untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini muncul bentuk-bentuk cetusan spontan, seperti dilukiskan oleh Kohler dengan kata-kata now, I see itu yang kurang lebihnya berarti “oh ya”.
Tahap Verifikasi; adalah tahap munculnya aktivitas evaluasi tarhadap gagasan secara kritis, yang sudah mulai dicocokkan dengan keadaan nyata atau kondisi realita.
Dari dua pendapat ahli diatas memandang kreativitas sebagai sebuah proses yang terjadi didalam otak manusia dalam menemukan dan mengembangkan sebuah gagasan baru yang lebih inovatif dan variatif (divergensi berpikir).
c.       Definisi Kreativitas dalam dimensi Press
Definisi dan pendekatan kreativitas yang menekankan faktor press atau dorongan, baik dorongan internal diri sendiri berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif, maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis. Definisi Simpson (1982) dalam S. C. U. Munandar 1999, merujuk pada aspek dorongan internal dengan rumusannya sebagai berikut :
“The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”
Mengenai “press” dari lingkungan, ada lingkungan yang menghargai imajinasi dan fantasi, dan menekankan kreativitas serta inovasi. Kreativitas juga kurang berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan tradisi, dan kurang terbukanya terhadap perubahan atau perkembangan baru.
d.       Definisi Kreativitas dalam dimensi Product
Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru/original atau sebuah elaborasi/penggabungan yang inovatif.
“Creativity is the ability to bring something new into existence” (Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001)
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999; yang menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Dari dua definisi ini maka kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.
Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.

Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa :

“Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda/lebih baik)”.
Banyak ahli yang menjelaskan makna kreativitas, beberapa ahli diantaranya menjelaskan pengertian kreativitas sebagai berikut :
a.       Guilford (1967) menyatakan bahwa intelegensi berkaitan dengan kemampuan berfikir konvergen, sedangkan kreativitas adalah berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berfikir divergen. Berfikir konvergen yaitu proses berfikir didasari oleh berbagai hal menuju kesatu hal/kesimpulan, sedangkan berfikir divergen yaitu kemampuan berfikir yang berawal dari satu persoalan atau satu hal menuju ke berbagai hal. Misalnya dalam memecahkan suatu persoalan lalu ditinjau dari berbagai segi.

b.      Utami munandar menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan
·         Untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada.
·         Menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kualitas, ketepatan, keluwesan dan keberagaman jawaban
·         Mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisininalitas dan berfikir serta kemampuan memperluas suatu gagasan.

c.       Nana Syaodih menyatakan kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan sesuatu hal baru, cara cara baru, model baru yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat.

d.      Ddavid Camphell menyatakan kreatifitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan hasil yang sifatnya baru, inovatif, belum ada sebelumnya, menarik, aneh dan beguna bagi masyarakat.

e.      Menurut Imam Musbikin (2006 :6) kreativitas adalah kemampuan memulai ide, melihat hubungan yang baru, atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang tak sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal yang ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu di jawab.

f.        Kreativitas menurut Mangunhardjana (1986 : 11) adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.

g.       menurut Supriyadi dalam Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati (2005 : 15) mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada. Selanjutnya ia menambahkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengimplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diverensiasi, dan integrasi antara setiap tahap perkembangan.
Apabila pendapat para ahli tersebut disimpulkan maka akan diperoleh pokok pokok pemikiran tentang kreativitas sebagai berikut :
a.       Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan produk produk baru
b.      Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk berfikir divergen meskipun tetap ada kaitannya dengan kemampuan berfikir konvergen
c.       Produk dari pemikiran kreatif itu antara lain mengandung ciri ciri adanya kelancaran (fluency) yaitu mengandung banyak ide/pemikiran dan bersifat luas, keluwesan (flexibility) dapat diterapkan dalam memcahkan berbagai persoalan, keaslian (originality) bukan meniru sifat khas dan unik, dan elaborasi (elaboration) merupakan penyempurnaan terhadap hal hal yang sebelumnya telah ada sehingga dapat lebih praktis, berdaya guna, dan menimbulkan kemudahan kemudahan untuk melakukan sesuatu.
  
   Tahap tahap kreativitas
Potensi kreatif berkembang melalui beberapa tahap sebagai berikut :
a.       Tahap persiapan (preparation) yaitu Pada periode ini individu meletakkan dasar pemikiran,menyatakan masalah dan menyimpulkan materi- materi yangdiperlukan untuk pemecahan masalah. Individu juga mempelajarimengenai latar belakang masalah serta seluk beluknya.
b.      Tahap konsentrasi (concertration) yaitu berfikir Pada tahap konsentrasi ini, perhatian individu tercurah danpikiran individu terpusat pada hal- hal yang mereka kerjakan. Tahapkonsentrasi merupakan waktu pemusatan, waktu untuk menimbangnimbang,waktu menguji, waktu awal untuk mencoba dan mengalamigagal (triad and error)
c.       Tahap inkubasi (incubation) Pada tahap inkubasi ini, individu seolah-olah melepaskan diriuntuk sementara dari masalah yang dihadapi atau tidak memikirkansecara sadar, tetapi menyimpannya dalam alam pra sadar. Artinyaindividu mencari kegiatan-kegiatan yang melepaskan diri darikesibukan pikiran terhadap masalah yang dihadapi, namun untuksementara waktu.

d.      Tahap penerangan (illumination) Pada tahap penerangan, hasil kreativitas baru muncul padaperiode ini, individu mengalami insight, untuk memecahkan masalahsecara tiba-tiba dan diikiti perasaan senang tahap AHA pada saat itu mendapatkan suatu ide/ gagasan tentang pemecahan masalah yang dihadapi tadi

e.      Tahap pembuktian (verification/production) Pada tahap pembuktian individu mengekspresikan ide- ide dalambentuk nyata. Dalam menentukan apakah penyelesaian masalah nampak dalam fakta-fakta yang benar, individu mengevaluasi hasil penyelesaian masalah, pada periode ini diperlukan pola berfikir kritis.

Karakteristik individu kreatif
Individu yang memiliki potensi kreativitas tinggi menunjukkan sikap dan perilaku yang kadang kadang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Kekhasan perilaku kreatif digambarkan oleh beberapa ahli berikut ini.
Menurut Rogers (dalam Utami Munandar, 2004) ada 3 kondisi dari pribadi kreatif, yaitu :
a.       Keterbukaan terhadap pengalaman
b.      Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (intenal locus of evaluation)
c.       Kemampuan untuk bereksperimen, untuk bermain dengan konsep konsep
Para ahli seperti Torrance dan Dembo (979) ; Utami Munandar (2004) ; Conny Semiawan (1984) ; Cohen (1976) ; Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri orang kreatif sebagai berikut :
a.       Suka humor, tidak kaku dan tegang dalam bekerja
b.      Suka pada pekerjaan yang menantang
c.       cukup kuat memusatkan perhatian
d.      suka mengemukakan ide ide baru yang bersifat imajinatif
e.      lebih sensitif terhadap keadaan orang lain
f.        tidak banyak terikat pada kelompok
g.       terbuka terhadap ide/penemuan baru
h.      fleksibel/tidak kaku
i.         memiliki konsep diri positif
menurut Utami Munandar (2004) perilaku kreatif tidak hanya memerlukan kemampuan berfikir kreatif (kognitif), tetapi juga memerlukan adanya sikap kreatif (afektif) pada saat kreatif dioperasionalkan.
Munandar (1999a) menyatakan bahwa ciri individu yang kreatif menurut para ahli psikologi antara lain adalah bebas dalam berpikir, mempunyai daya imajinasi, bersifat ingin tahu, ingin mencari pengalaman baru, mempunyai inisiatif, bebas berpendapat, mempunyai minat luas, percaya pada diri sendiri, tidak mau menerima pendapat begitu saja, cukup mandiri dan tidak pernah bosan.
Lebih lanjut Munandar (1999a) menjelaskan ciri-ciri pribadi kreatif meliputi ciri-ciri aptitude dan non-aptitude. Ciri-ciri aptitude yaitu ciri yang berhubungan dengan kognisi atau proses berpikir :
a.       Keterampilan berpikir lancar, yaitu kemampuan mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan.
b.      Keterampilan berpikir luwes, yaitu kemampuan menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi, serta dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
c.       Keterampilan berpikir orisinal, yaitu kemampuan melahirkan ungkapan yang baru, unik, dan asli.
d.      Keterampilan memperinci (mengelaborasi), yaitu kemampuan mengembangkan, memperkaya, atau memperinci detil-detil dari suatu gagasan sehingga menjadi lebih menarik.
e.      Keterampilan menilai (mengevaluasi), yaitu kemampuan menentukan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan, suatu rencana, atau suatu tindakan itu bijaksana atau tidak
Ciri-ciri non-aptitude yaitu ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan, motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu :
a.       Rasa ingin tahu;
b.       Bersifat imajinatif
c.       Merasa tertantang oleh kemajemukan
d.      Berani mengambil risiko;
e.      Sifat menghargai.

Sund (dalam Nursito, 2000) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri yaitu
a.       mempunyai hasrat ingin tahu, bersikap terhadap pengalaman baru,
b.      panjang akal,
c.       keinginan untuk menemukan dan meneliti
d.      cenderung lebih suka melakukan tugas yang lebih berat dan sulit,
e.      berpikir fleksibel, bergairah, aktif dan berdedikasi dalam tugas,
f.        menanggapi pertanyaan dan mempunyai kebiasaan untuk memberikan jawaban lebih banyak
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri individu yang kreatif adalah bebas dalam berpikir dan bertindak, mempunyai daya imajinasi, bersifat ingin tahu, ingin mencari pengalaman baru, mempunyai minat yang luas, mempunyai inisiatif, bebas berpendapat, tidak pernah bosan, dan merasa tertantang oleh kemajemukan.

Identifiaksi dan pengukuran kreatifitas

Menurut  Dacey (1989) dasar pertimbangan untuk mengukur bakat kreatif anak, yaitu untuk tujuan pengayaan, remedial, bimbingan kejuruan, evaluasi pendidikan, dan untuk mengkaji kreativitas pada berbagai tahap kehidupan. Davis (1992) melihat tiga kegunaan utama untuk tes kreativitas, yaitu untuk tujuan identifikasi bakat kreatif, penelitian, serta untuk bimbingan dan konseling.

Kreativitas atau bakat kreatif dapat diukur secara langsung dan tidak langsung, dan dapat menggunakan metode tes dan non- tes. Ada pula alat untuk mengukur cirri-ciri kepribadian kreatif, dan dapat dilakukan pengamatan langsung terhadap kinerja kreatif

Sesuai dengan definisi USOE (U. S Office of Education) yang membedakan enam jenis bakat dikembangkan alat identifikasi untuk masing-masing bidang tertentu
Untuk mengukur kemampuan intelektual umum, tes individual lebih cermat, tetapi lebih banyak memakan waktu dan biaya. Yang sudah dugunakan di Indonesia adalah tes Stanford-Binet dan Wechsler intelligence Scale for Children. Tes inteligensi kelompok lebih efisien dalam ukuran waktu dan biaya. Keterbatasannya adalah kita tidak tahu apakah prestasi anak sudah optimal. Di Indonesia yang sudah banyak digunakan adalah tes Progressive Matrices, Culture-Fair Intelligence Test dan Tes Inteligensi Kolektif Indonesia yang khusus dikontruksi untuk Indonesia

Tes Potensi Akademik (TPA) yang khusus dirancang untuk Indosnesia, dapat digunakan untuk mengukur bakat akademik, misalnya sejah mana seseorang mampu mengikuti pendidikan tersier

Tes untuk mengukur bakat kepemimpinan belum banyak digunakan di Indonesia, demikian pula tes untuk mengukur bakat dalam salah satu bidang seni atau bakat psikomotorik. Tes luar negeriyang mengukut kreativitas adalah tes dari Guilford yang mengukur kemampuan berpikir divergen, dengan membedakan aspek kelancaran, kelenturan, orisionalitas dan kerncian dalam berpikir

Tes Torrance untuk mengukur berpikir kreatif (Torrance Test of Creative Thinking) dapat digunakan mulai usia prasekolah sampai tamat sekolah menengah, mempunyai bentuk verbal dan figural. Tes ini telah digunakan di Indonesia untuk tujuan peneltian. Tes lainnya untuk mengukur berpikir kreatif dan termasuk baru ialah Tes Berpikir Kreatif-Produksi Menggambar (TRest for Creative Thinking-Drawing Production) dari Jellen dan Urban (1985). Penilaiannya mencakup sembilan dimensi

Tes yang khusus di konstruksi di Indonesia ialah Tes Kreativitas Verbal (Utami Munandar,1977). Tes ini disusun berdasarkan model Struktur Intelek dari Guilford, dengan dimensi operasi berpikir divergen, dimensi konten, dimensi berpikir verbal,dan berbeda dalam dimensi produk. Untuk setiap kategori produk ada satu sub-tes. Ada enam sub-tes, yaitu permulaan kata, menyusun kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifatyang sama, macam-macam penggunaan, dan apa akibatnya. Setiap sub-tes terdiri dari empat butir. Pada bentuk parallel (ada dua bentuk) hanya dua butir. Tes ini seperti tes Guilford mengukur kelancara, kelenturan, orisionalitas,dan elaborasi dalam berpikir. Tahun 1986 telah dilakukan penelitian pembakuan TKV yang menghasilkan nilai baku untuk umur 10 – 18 tahun, dan pengukuran “Creative Questient”.

Tes  Kreativitas Figural diadaptasi dari Torrance “Circles Test”, dan dibukukan untuk umur 10-18 tahun oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. TKF kecuali mengukur aspek kreativitas tersebut di muka, juga mengukur kreativitas sebagai kemampuan untuk kombinasi antara unsure-unsuryang diberikan.

Skala  Sikap Kreatif yang juga khusus disusn di Indonesia mengukur dimensi efektif dari kreativitas, yaitu sikap kreatif, yang dioperalisasi dalam tujuh dimensi. Skala ini disusun untuk anak SD dan SMP. Skala Penilaian Anak Berbakat oleh Guru disusun oleh Renzulli dan terdiri dari empat sub-skala, yaitu untuk mengukur fungsi kognitif (belajar), motivasi, kreativitas dan kepemimpinan. Sub-skala untuk kreativitas meliputi 10 butir untuk dinilai guru. Akibat kesuliatan dalam menggunakan alat dari Renzulli, maka disusun Alat Sederhana untuk Identifikasi Kreativitas, dengan format untuk Sekolah Dasardan format untuk Sekolah Menengah. Disnilah dimensi kreativitas digabungka dengan dimensi lain dari keberbakatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar